PUNYA MASALAH PEMBELAJARAN? KONSULTASIKAN KE KAMI GRATIS
Bu Derly sedang mengajar dengan penuh konsentrasi, ketika tiba-tiba terdengar siulan lirih di kelas. Ia langsung marah, menatap murid-murid yang saling pandang kebingungan. “Siapa yang bersiul?!” bentaknya. Semua anak menggeleng, wajah mereka polos. Namun kali ini Bu Derly yakin ia tak salah. Di pojok kelas, seorang anak perempuan berambut panjang tampak bersiul pelan, matanya menunduk.
Dengan langkah cepat, Bu Derly mendekat. “Kamu!” serunya. Anak itu tetap bersiul, nada semakin tinggi, membuat bulu kuduk berdiri. Saat Bu Derly menyingkap rambut panjang yang menutupi wajah, ternyata wajah itu bukan wajah manusia, kulit pucat tanpa mata, hanya mulut yang terus bersiul. Seketika siulan itu berubah menjadi jeritan panjang yang menggema ke seluruh ruangan.
Murid-murid yang tadinya bingung mendadak menjerit bersamaan, lalu tubuh mereka kaku. Satu per satu mata mereka memutih, mulut bergerak mengikuti siulan yang kini terdengar dari segala arah. Dalam hitungan detik, seluruh kelas berubah menjadi paduan suara menyeramkan: semua murid kesurupan, bersiul dengan nada yang sama, menatap Bu Derly dengan senyum kosong. Ia terjebak di tengah lingkaran anak-anak yang bukan lagi muridnya, melainkan sesuatu yang lain.
***
Bu Derly terbangun dengan napas terengah. “Mimpi buruk,” gumamnya, mencoba menenangkan diri. Ia berangkat ke sekolah seperti biasa, melewati jalanan macet, suara klakson bersahut-sahutan. Namun begitu tiba di gerbang sekolah, langkahnya terasa berat.
Saat memasuki kelas, suasana tampak normal: murid-murid bercanda, beberapa sibuk menulis. Tapi ketika ia mulai mengajar, terdengar lagi siulan lirih itu. Ia menoleh, murid-murid kembali saling pandang kebingungan. “Siapa yang bersiul?!” bentaknya. Semua menggeleng, wajah mereka polos.
Adegan dalam mimpinya terulang.
BERSAMBUNG.....