PUNYA MASALAH PEMBELAJARAN? KONSULTASIKAN KE KAMI GRATIS
Pak Guru naik ke lantai atas hanya untuk mengambil kacamata yang tertinggal, sementara hujan di luar mengguncang jendela dengan deras. Di dalam kelas terakhir yang ia masuki, murid-murid masih duduk rapi, wajah mereka menatap lurus tanpa gelisah.
“Kalian belum pulang?” tanyanya, dan serempak terdengar jawaban panjang, “Beluuum paaaak…” terlalu kompak, terlalu seragam.
Sekejap kemudian listrik padam, gelap menelan ruangan, dan suasana membeku tanpa tanda kehidupan. Dengan tangan gemetar ia mengenakan kacamata, lalu terperangah: wajah-wajah itu berubah menjadi pucat, busuk, mata kosong menatapnya, senyum mengerikan memenuhi ruangan.
Dari tengah kerumunan, suara lirih menyusup, “Belajar bareng yuk…” dan jeritan Pak Guru pun pecah, “Aaaaaaaa!”
***
Satu jam sebelumnya.
Pak Warno, guru yang sudah mendekati masa purna tugas, duduk sendirian di ruang guru. Hujan deras di luar membuat jendela bergetar, sementara angin kencang sesekali menjerit seperti suara anak-anak yang berlari di lorong sekolah. Beliau menatap jam dinding tua yang jarumnya bergerak lambat, seolah menahan waktu.
Ada dua alasan beliau belum pulang: jas hujan yang tertinggal di rumah, dan angin yang terlalu kencang untuk dilawan. “Nanti saja,” gumamnya, sambil merapikan buku catatan.
Namun, ada satu hal yang membuatnya gelisah: kacamata bacanya tertinggal di kelas lantai atas. Tanpa itu, ia tak bisa membaca apapun. Maka, dengan langkah hati-hati, ia memutuskan untuk kembali ke kelas.
Pak Warno melangkah keluar dari ruang guru, lorong panjang itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu neon di langit-langit berkelip-kelip, memantulkan bayangan aneh di dinding yang lembap. Suara hujan di luar berpadu dengan derit kayu tua dari jendela yang bergetar, membuat suasana seperti sekolah itu sedang bernapas sendiri. Setiap langkah sepatunya menimbulkan gema yang terlalu keras, seolah lorong itu ingin mengingatkan bahwa ia sedang sendirian.
Saat menaiki tangga menuju lantai dua, angin kencang menyusup lewat celah jendela, membawa aroma tanah basah bercampur debu kapur. Pegangan tangga dingin dan licin, membuatnya harus berhati-hati. Di tengah perjalanan, ia merasa ada bayangan bergerak di ujung tangga, namun ketika menoleh, hanya ada gelap yang menelan pandangan. Hatinya berdegup, tapi ia mencoba menenangkan diri dengan alasan sederhana: mungkin hanya pantulan cahaya dari kilatan petir.
Begitu sampai di lantai dua, suasana semakin menekan. Lorong kelas tampak lebih panjang dari biasanya, seakan tak berujung. Pintu-pintu kelas tertutup rapat, namun dari salah satu ruangan terdengar suara samar seperti bisikan anak-anak. Pak Warno berhenti sejenak, menatap ke arah suara itu. Hujan di luar semakin deras, dan lorong itu terasa seperti dunia lain yang terpisah dari kenyataan. Dengan langkah berat, ia terus maju, menuju kelas terakhir tempat kacamatanya tertinggal.
***
Pak Warno jatuh pingsan di kelas. Saat siuman, ia sudah berada di rumah. Tubuhnya masih lemah, langkahnya sempoyongan menuju meja makan. Di sana, istrinya sedang menyeduh beberapa gelas teh, aroma hangatnya berusaha menenangkan suasana yang masih diliputi hujan deras di luar.
“Bapak sudah baikan?” tanya sang istri lembut.
“Apa yang terjadi denganku?” suara Pak Warno bergetar.
“Bapak pingsan. Untungnya ada yang mengantar pulang,” jawab istrinya sambil menuang teh ke cangkir.
Pak Warno mengernyit, rasa penasaran menguasai dirinya. “Siapa yang mengantar?” tanyanya.
“Murid Bapak. Kasihan mereka kehujanan, jadi kubuatkan teh,” jawab sang istri tenang, seolah tak ada yang aneh. Kata-kata itu membuat jantung Pak Warno berdegup lebih cepat. Murid? Di tengah hujan deras?
Dengan langkah tergesa, ia menuju ruang tamu. Begitu pintu terbuka, matanya langsung membelalak. Sekitar tujuh anak berdiri di sana, wajah pucat dengan senyum meringis yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Mata mereka kosong, kulitnya pucat kehijauan, dan senyum itu terlalu lebar untuk manusia. Mereka menatap lurus ke arahnya, serempak.
Pak Warno terperangah, tubuhnya kaku, lalu teriakannya pecah menembus suara hujan:
“Aaaaaaaaa!”
***
Pak Warno, menurut cerita, mengundurkan diri sebagai guru di sekolah itu. []
Bandingkan dengan ini, ngeri mana?: Tradisi perburuan dan pembantaian paus di Kepulauan Faroe telah dilakukan pekan lalu. Sekitar 300 ekor mamalia laut tewas akibat pembantaian di lepas pantai tersebut. Melansir AFP, tradisi itu bernama Grindadrap, sebuah tradisi kuno yang telah dilakukan masyarakat Denmark sejak lebih dari 1.000 tahun yang lalu. Tradisi Grindadrap adalah budaya yang paling diandalkan di kepulauan tersebut. Sebuah wilayah otonom di Denmark, di Kepulauan Atlantik Utara.
Sementara itu, di pucuk pepohonan di pegunungan Alpen, Italia ditemukan banyak sampah menggantung di sarang burung elang paria. Sebagian burung memanfaatkan gabus, kertas timah, dan puntung rokok untuk menggantikan bahan alami. Ini bisa diasumsikan bahwa bahan pembangun sarang alami telah menghilang dari habitat. “Manusia memberi dampak langsung pada burung....” Luis Sandoval, Profesor Ornitologi Universidad de Costa Rica.
Dalam tiga tahun terakhir, Indonesia menghadapi tekanan serius pada ekosistem darat dan laut. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan deforestasi netto mencapai lebih dari 257 ribu hektar pada 2023, dengan Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan sebagai wilayah paling terdampak. Hutan produksi dan area penggunaan lain (APL) menjadi sasaran utama, sementara kebakaran hutan dan lahan pada 2024 menambah kerusakan hingga ratusan ribu hektar. Dampaknya bukan hanya hilangnya tutupan hutan, tetapi juga terganggunya habitat satwa dilindungi di taman nasional dan cagar alam.
Di sisi lain, pencemaran laut semakin nyata di pesisir Jawa, Bali, dan Sulawesi. Indeks Kesehatan Laut Indonesia 2023 mencatat penurunan kualitas ekosistem akibat limbah plastik, buangan industri, serta penangkapan ikan berlebih. BPS melaporkan peningkatan limbah padat dan cair di kawasan pesisir padat penduduk, sementara wilayah timur seperti Maluku menghadapi pencemaran dari aktivitas perikanan dan tambang. Kombinasi deforestasi dan pencemaran laut ini memperlihatkan betapa rapuhnya ekosistem Indonesia jika tidak diimbangi dengan kebijakan lingkungan yang tegas dan pengawasan berkelanjutan.
Apa yang bisa kamu perbuat untuk negara kita?
Sumber:
National Geographic, Desember, 2018
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. (2024). Data Deforestasi Indonesia Tahun 2023. Jakarta: KLHK.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. (2025). Laporan Deforestasi Netto Indonesia Tahun 2024. Jakarta: KLHK
Badan Pusat Statistik. (2023). Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2023. Jakarta: BPS.
Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. (2023). Indeks Kesehatan Laut Indonesia (IKLI) 2023. Jakarta: KKP
Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. (2024). Laporan Pencemaran Laut dan Ekosistem Pesisir. Jakarta: KKP.
Bu Derly sedang mengajar ketika terdengar siulan lirih. Ia marah, menatap murid-murid yang bingung. Di pojok, seorang anak berambut panjang bersiul tanpa berhenti. Saat rambutnya disingkap, wajah itu tanpa mata—hanya mulut yang bersiul. Seketika seluruh murid kesurupan, bersiul serempak menatap Bu Derly dengan senyum kosong.
Bangsa kita kaya bukan soal bahasa daerahnya, sumber daya alamnya, tradisinya, tapi juga perihal hantu-hantunya. Berbhineka hantunya, tetap Indonesia tanah airnya.